Joko Pinurbo

Joko Pinurbo

Joko Pinurbo

Joko Pinurbo mengatakan pentingnya seorang pengarang untuk memiliki daya tahan mental yang kuat. Seringkali karena gagalnya karya-karya awal, buku pertama yang tidak dianggap, pengarang kemudian merasa jatuh. Dari banyaknya penyair yang seangkatan dengan Joko Pinurbo, berapa yang masih bertahan hingga sekarang? Untuk menebalkan mental, ia banyak belajar dari figur ayahnya, yang dengan hidup keras mampu bertahan. “Kita harus kreatif menciptakan metafor-metafor baru,  karena semua tema sudah ada, sudah pernah digarap orang, yang penting bagaimana kita mengemasnya dengan memberi kekhasan, agar pembaca tidak bosan.”

Meski puisinya terdengar lucu, ia mengaku tidak punya bakat melucu. Kelucuan yang hadir, merupakan hasil dari bermain dengan logika, ada pembelokan di akhir puisi yang tidak diduga pembaca. Senang menulis puisi sejak SMA, ia mengaku dirinya banyak menyenangi cerita-cerita sufi, yang jenaka dan penuh humor.

Situasi zaman yang terus berubah, melalui kemudahan-kemudahan yang dinikmati, tentunya diharapkan dapat dimanfaatkan para penulis-penulis muda untuk bisa memperkaya kosa kata  dan menjadi antitesis terhadap zamannya. “Jadi penyair harus rendah hati, buatlah karya yang bisa merengkuh pembaca, menyentuh pengalaman sehari-hari mereka, tanpa mengorbankan konten dan kualitas. Itu tantangan beratnya. Penyair bukan dewa bahasa.”

 

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran.
Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang.
Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni baju buatan.
Bulan mencopot bajunya yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan.
Bulan sendiri rela telanjang di langit, atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

(2003)

 

Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air
Di celah batu karang tersembunyi,
Seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,
Malam ini aku mau minum di bibirmu.
Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,
Seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.

(2006)

 

Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun baru
Ayah pilih menyepi di rumah saja
Sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.

Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

(2006)

Melihat dari Dekat Wajah Asli Gunung Merapi

Kata orang-orang, pagi hari adalah saat terbaik untuk menikmati pemandangan Gunung Merapi sebelum berselimut kabut. Namun sayangnya, saya dan keluarga berangkat dari taji, klaten pukul 15.00, sore hari. Kami berangkat menuju Kaliadem, sebuah kawasan sejuk yang berada di kaki Gunung Merapi, sekitar 25 km utara Kota Jogja. Kami memilih jalur alternatif lewat Maguwo karena jalur itu memiliki lebih banyak sawah ketimbang lewat Jalan Kaliurang. (yogyes)

Benar saja, baru beberapa kilometer menjauhi kota, pemandangan hijaunya sawah langsung memanjakan mata, bagaikan lukisan-lukisan Mooi Indie. (yogyes)

Udara sejuk pun segera menyergap lewat jendela mobil yang dibiarkan terbuka. Samar-samar tercium aroma batang padi; baunya segar, seperti bau rumput sehabis dimandikan hujan. (yogyes)

Di balik penampilannya yang begitu tenang, Gunung Merapi menyimpan kekuatan alam yang dahsyat. Sebagian ilmuwan menduga letusan besar Gunung Merapi adalah penyebab kerajaan Mataram Kuno berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Ketika meletus, Gunung Merapi sanggup menyemburkan awan panas (800-1000 derajat celcius) yang meluncur ke bawah dengan kecepatan hingga 70 km/jam. Pada tahun 1930, awan panas dari letusan Gunung Merapi menghanguskan hutan, 13 desa, dan 1400 penduduk dalam sekejap. (yogyes)

Selain menikmati indahnya puncak Merapi, banyak panorama lain yang bisa dilihat, lautan pasir dan batu, reruntuhan rumah yang tersapu awan panas tampak di kanan dan kiri jalan. (yogyes)

Oke, kita lanjutkan dengan perjalanan menuju wilayah yang akan kami tuju. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari titik awal keberangkatan dengan jeep khusus untuk mencapai lokasi yang menjadi saksi bisu keganasan merapi. (travel detik)

Sepanjang perjalanan, tampak wajah-wajah penuh kesenangan bercampur ketegangan terpancar dari para sahabat. Tak lupa selama perjalanan, kamera digital dan kamera HP terus mengabadikan moment-moment yang dilalui. (travel detik)

Begitu tiba di ‘pintu masuk’ area off road merapi, nyali kami langsung diuji. Pengemudi dengan sengaja melewati jalur yang tidak biasa dilalui mobil biasa. Seketika teriakan kecemasan dari para penumpang membahana memecah kesunyian. Ternyata rute selanjutnya sebagian besar adalah medan off road yang benar-benar menguji keberanian para wisatawan. (travel detik)

Sebelum mencapai lokasi terakhir penjelajahan kali ini, kami singgah sejenak di ‘museum’ yang berupa sebuah rumah yang hancur terkena luncuran awan panas merapi. Konon suhunya mencapai ratusan bahkan ribuan derajat celcius. (travel detik)

Di dalamnya dipajang kerangka motor, rangka sapi, gelas, handphone, bahkan gamelan yang juga menjadi bukti otentik kemurkaan alam kala itu. Yang paling monumental adalah sebuah jam erupsi yang ternyata menunjukkan waktu erupsi Gunung Merapi saat itu. (travel detik)

Setelah berfoto-foto sebentar di museum tersebut, kami meneruskan trip jelajah Merapi menuju tempat menarik lainnya di wilayah tersebut. Adrenalin kami pun kian memuncak seiring dengan raungan mesin kendaraan dan makin meningginya jalur yang kami lewati. (travel detik)

Tak sabar rasanya ingin menikmati keindahan puncak merapi dari jarak dekat. Dalam hitungan menit, akhirnya kami sampai juga di sebuah bukit terjal yang dikelilingi kawasan pasir halus hingga bebatuan besar. (travel detik)

Sambil digelayuti mendung dan rintik hujan, nampak jelas di sekitar kami, terlihat uap keluar dari bongkahan bebatuan dan pasir. Terbayang betapa panasnya kandungan material di dalamnya, bahkan hingga tiga tahun lebih paska letusan, masih menyisakan uap udara seperti itu. (travel detik)

Sore menjelang dan rintik hujan tak juga mereda, akhirnya tak berapa lama kami meninggalkan spot itu untuk beringsut menuruni kawasan Merapi dan kembali ke tempat permulaan kami berangkat. (travel detik)

Biaya (travel detik)

Tidak ada biaya masuk bagi Wisatawan, hanya kendaraannya saja yang bayar. Untuk motor dikenakan biaya Rp 7.000 per motor, mobil Rp 15.000. Namun, untuk biaya parkir wisatawan harus kembali mengeluarkan uang, Rp 2.000 per motor dan Rp 5.000-Rp 10.000 untuk mobil.

Para pengunjung tidak boleh membawa kendaraan sampai ke atas, disini sudah disediakan kendaraan untuk disewakan. Ada beberapa pilihan: naik ojek (Rp 10.000), menyewa motocross, menyewa jeep, sepeda gunung, atau jalan kaki sambil menikmati pemandangan? Semua ini bisa menjadi pilihan yang sesuai dengan kantong.

Rute:

  • Kalau hanya ke bekas rumah Mbah Marijan, ongkosya Rp 50.000 pergi pulang dengan waktu 30 menit.
  • Ke bekas rumah mbah Maridjan, ke Desa Gumuk Duwur dan keKali Adem, ongkosnya Rp 150.000 bolak balik, selama dua jam.
  • Naik motor trail dengan jarak yang lebih jauh dengan waktu tiga jam dengan ongkos Rp 250.000 (Rute: Desa Gumuk Petung, makam Mbah Marijan, Glagah Sari, dan Kali Gendol)

Catatan: untuk ber-trail ria sambil menikmati pesona alam kawasan Gunung Merapi dengan Kawasaki 150 CC, Anda harus menggunakan sepatu khusus dan deker serta helem untuk melindungi kaki, lutut, dan kepala saat melewati kali Opak.

Sekali lagi Yogyakarta telah memberikan pengalaman traveling yang seru dan berbeda, dalam wujud tempat dan makanan yang belum pernah dikunjungi dan dirasakan oleh kami selama ini.

Rasanya perjalanan kali ini terasa sempurna mengisi masa liburan kami. Masih banyak objek wisata dan kuliner yang belum sempat kami datangi dan cicipi. Mungkin lain waktu kami akan kembali ke kota ini. Sebagaimana kutipan lirik lagu dari Kla Project:

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,”

Seperti Bermain Ular Tangga

Seperti Bermain Ular TanggaKadang dapat dadu 6 dan dapat kesempatan sekali lagi.
Kadang dapat dengan anak tangga tinggi dan melesat ke depan melewati yang lain.
Kadang dapat dengan anak tangga rendah dan sedikit senang karena kejutan yang ada.
Kadang dapat ular dan turun ke bawah dengan sedih, tanpa perlu diperjelas berapa panjang ularnya atau turun berapa nomor.

Hidup itu seperti bermain ular tangga.
Bedanya adalah batas nomornya tidak ada.
Kalaupun ada, bukan kita yang menentukannya.
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat yang lain sampai duluan di kotak nomor 100?
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat ular menghadang kotak hidupmu?
Nikmati saja, dan mainkan hingga selesai 🙂

Pada akhirnya yang berarti bukanlah siapa pemenangnya,
melainkan berapa banyak orang yang dengan setia menunggumu menyelesaikan permainan sampai akhir.

Bukan begitu? 🙂

NB: Mbak, civil terimakasih atas mood boster-nya:) penulisburonan

Seperti Membersihkan Isi Lemari di Akhir Tahun

bersihkan-hatiMembuang yang tidak lagi terpakai, tidak berguna. tidak cocok, dan tidak lagi dibutuhkan. Hingga hanya menyisakan apa yang betul – betul penting dan berharga, nyaman untuk dikenakan, dan selalu siap saat dibutuhkan.

Itu yang kulakukan beberapa bulan terakhir,
membersihkan isi lemari hidupku.

Aneh rasanya.
Sedikit sedih karena harus kehilangan dan membuang banyak hal yang meskipun kutahu tidak kubutuhkan, namun entah mengapa terasa sulit untuk dibuang.

Kosong rasanya.
Melihat lemari hatiku yang jadi terasa lebih lapang dan lengang. Ada sedikit sepi terasa, dan ada sedikit ketakutan akan kekurangan yang mungkin akan kuhadapi nantinya.

Namun lega rasanya.
Mengetahui apa yang tersisa adalah apa yang benar – benar penting dan benar – benar kubutuhkan. Meyakini dan memastikan hidupku terus berlanjut untuk diperbaharui.

Perlahan namun pasti.

NB: Mbak, civil terimakasih atas mood boster-nya 🙂 penulisburonan